Minggu, 02 April 2017

Putar-putar Jari, Putar-putar Otak




Idealisme setiap keluarga itu berbeda. Tidak dapat disamakan. Kami tak mau membandingkan keluarga kami dg keluarga super lain, tapi kami ingin selalu berusaha lebih baik dr waktu ke waktu.

Belakangan saya dianggap terlalu sibuk dengan handphone (kata anak-anak dan suami). Betul, mengurusi grup Foundation IIP Bekasi terkadang membuat anak-anak terabaikan. Disini tugas saya utk kembali melekatkan hati kami, mengembalikan kepercayaan anak-anak bahwa ibunya masih ada dan selalu mencintai mereka.

Saat semua pekerjaan saya sudah selesai, sambil menunggu papi pulang, saya ajak anak-anak bermain dikamar. Abang Ali minta diajarkan trik memainkan jari di hidung tanpa terplintir. Entah dia penasaran sekali dengan saya yg dianggapnya selalu bisa menjawab tantangan2 permainan dari dia. Haha yaiyalah...wong saya kecilnya lebih dulu dari dia, wajarlah banyak permainan2 atau tebak2an bahkan trik2an yg saya sudah hafal haha..

Saya beri contoh sekali tapi Alinmasih kebingungan, dia sibuk memutar otak bagaimana agar jarinya sempurna berbalik di hidung tanpa haris terplintir. Saya sih mudah saya..haha Arsya ikutan sibuk dan seru2an memainkan jarinya. Dia mah masih bayi, belum mampu putar2 otak sepertu abangnya. Ikut bermain sekedar seru2an saja hehe

Abang ali sempat menyerah karna berulang kali gagal. Saya motivasi terus, bahwa dulu kecil saya pun pernah terttantang utk mencari tahu ttg trik ini. Ini hanya trik dan permainan, gak usahlah dibawa pusing apalagu sampai baper..hehe

Kalau saya diamkan Ali bakalan mentok dan putus asa. Alhamdulillaah saya semangatu terus dan bilang bahwa Ali bisa, Ali pasti bisa!

Alhamdulillaah kami dapat tertawa2 dan anak2 pun belajar berusaha dan memecahkan masalahnya tanpa berputus asa.

Sesimple ini saja bagi kami sudah luar biasa, menumbuhkan kembali benih cinta dan kepercayaan anak-anak thdp ibunya. Tak harus selalu papinya hadir ditengah2 kami, insyaalloh kami tetap bisa teetawa2 bersama.

Maaf kendala teknis, insyaalloh dokumentasi segera diupload. Ini mengejar ketertinggalan setoran dulu ya Bu...✌


Senin, 27 Maret 2017

#Day3
#FamilyProject
#KuliahBunsayIIP
#BundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Weekend Murah Meriah



Projek keluarga itu : Aktivitas + Manajemen, dan Organisasi. Dan terget setiap keluarga pun berbeda-beda, tidak bisa disamaratakan karena setiap keluarga itu unik. Apalagi dalam keluarga kami, family forum juga belum menjadi habit. Jadilah kami sering membuat projek dadakan, seperti semalam.

Ceritanya kemarin sore kami bersilaturrahim kerumah saudara yang kebetulan dekat dengan rumah baru kami di Villa 2.  Dan Papi juga sedang sibuk sekali dengan proyeknya, maka kemarin sore itu benar-benar harus dimanfaatkan dengan maksimal. Saya mengajak anak-anak memilih tempat bermain dekat rumah, tapi bukan mall seperti biasanya kami menghabiskan akhir pekan.

Jadilah selepas Maghrib dari bersilaturrahim, kami berjalan-jalan dengan motor ber-4 ke komplek sebelah, namanya Puri Cendana. Disana ramai sekali orang berjualan dan tempat mainan anak. Ali memilih bermain motor mini, sedangkan adiknya bermain mobil aki. Ali dan Arsya belajar sabar menunggu antrian mainan sambil memperhatikan anak-anak sebelum mereka bermain. Katanya Aki, anak kecil yg naik motor sebelumnya itu mbandel, suka ngetrill. Hehe. Sekalian lah kami ngobrol ttg adab berkendara. Tapi lucunya, giliran Ali main, dia malah iseng mencoba melawan arah. Saya tegur dia tertawa, setelah petugasnya menegur dia langsung berbalik ke arah yg benar.

Ali belajar bahwa dalam bermain pun ada adabnya, agar tidak mengganggu dan membahayakan teman-teman lainnya yg sedang bermain. Arsya lucu lagi, dia malah sibuk mendorong-dorong mobilnya yg tidak mogok, sepertinya dia butuh cara baru bermain mobilan πŸ˜‚

Papinya sibuk saja dengan handphone nya, memang benar ada saja kerjaan yg diurusnya, tapi saya coba katakan bahwa malam ini waktunya menjadi hak anak-anak. Sejatinya mendampingi anak bukan saja urusan emaknya, tetapi juga bapaknya. Akhirnya maulah dia turun ke track, meskipun tidak lama sudah mengeluh capek. Haha baiklah...terimakasih 😊

Lepas bermain Papi minta dibelikan tahu crispy, kemudian berikan kode pada minta makan. Saya bilang silakan pilih makanan yg ada, asalkan tidak mahal, 50 ribu cukup utk kita ber-4. Tidak ada yg protes justru ketawa-ketawa. Haha...

Ali masih bingung mau makan apa, Papi memberi ide nasi uduk kampung (nasi uduk pinggir jalan yg dijual malam hari). Nasi uduk penyelamat, saya menyebutnya. Karena papi sering bawakan buat saya jika dia pulang kerja larut malam dan saya mengadu lapar padanya hehe...

Anak-anak baru pertama kali membeli nasi udukampung dan pertama kali juga memperhatikan orang jualan nasi uduk malam-malam. Kebetulan baru menggoreng-goreng tempe dan bakwan, si Mpok penjualnya juga baru mengaduk sambal kacang dan adonan bakwan. Ali menyimak si Mpok cerita sambil memperhatikan bagaimana usaha seseorang berjualan utk encari nafkah, meski sampai larut malam jam 2. Kalau Arsya mah sibuk mengacak alat-alat seperti japitan dll πŸ˜…

Pulang kerumah, sambil makan kami mengobrol santai. Disitulah saya praktekkan Bahasa Ibu Pengikat Makna, eaaaaaaa 😁

Bayangkan hanya dengan biaya murah, mobilan 20 ribu, nasi uduk + gorengan 15 ribu, kami sudah bisa berbahagia. Ali pun mengangguk mengiyakan bahwa utk bersenang-senang tak harus mahal.

Disini emak yg paling senang, bayangkan sebelum2nya setiap pergi weekend minimal 500 ribu saya keluarkan. Sekali makan saja minimal 200 ribu, belum anak-anak meminta mainan dan kebiasaan jelek saya belanja baju-sepatu-tas yg akhirnya jarang dipakai.

Dirumah kami bahas kembali tentang jalan-jalan tadi. Alhamdulillaah semuanya gembira, sekaligus saya pesankan ke anak-anak bahwa utk bergembira di weekend tidak perlu mengeluarkan budget banyak hehe

25 Maret 2017

#Day2
#FamilyProject
#KuliahBunsayIIP
#InstitutIbuProfesional

Kamis, 23 Maret 2017

Launching STAR HOUSE (part.1)

Bismillaah...

Berangkat dari seminar Family Strategic Planning akhir tahun lalu di BSI Square, kami sepakat membuat family branding yaitu STAR HOUSE. Filosofinya adalah, kami percaya bahwa semua yang ada didalam rumah ini adalah bintang. Setiap bintang bersinar dengan keunikannya masing-masing. Kenapa harus berbahasa Inggris? Karena Abang Ali suka sekali dengan bahasa Inggris, semoga menular kepada adik-adiknya hehehe. Saya pun juga suka, meski gak bisa-bisa amat sih πŸ˜†. Sebenarnya menyesuaikan juga dengan Core Value dalam keluarga kami, yaitu Cerdas - cerdas tidak hanya orang yg jago Matematika, boleh jadi cerdas linguistik seperti Ali 😊

Star House sebetulnya sudah lahir sejak Januari 2017, untuk logo pun sudah dipersiapkan oleh Ali, waktu itu dia jadikan projek individunya. Namun karena pindahan rumah mungkin lembaran kertasnya terselip entah dimana. Kebetulan saya sedang mendapat tantangan tentang Family Projek, jadilah kami ber-3 dirumah menggambar ulang logo Star House. 

Meski Papi sedang diluar rumah, tapi juga dilibatkan dalam meramu ide. Apakah cocok menggambar logo rumah dan bintang? Katanya iya bagus, lanjutkan. Jadilah Ali, saya dan Arsya menggambar. Yup...coret2an tidak jelas yg ada di gambar adl hasil karya Arsya haha...

Disini saya mengajak anak2 memberi penokohan kepada 4 bintang, sesuai keinginan masing2 dlm mempresentasikan dirinya. Kami beri nama Little Star untuk Arsya krn memang dia anggota paling kecil dirumah. Kemudian saya namai Superstar utk saya sendiri karena saya suka sekali jajanan wafer Superstar! Hahaha. Untuk Papi masih kosong namanya karena beliau pun masih bingung. Tangan saya gatal ingin tuliskan Dut-Star saja, karena papi bintang tergendut dirumah hahaha...tp urung saya lakukan, mengajak Ali utk menghormati sosok ayah. 

Ali menamakan dirinya Bright Star, lengkap dengan penampakan bintang yg bersinar2 (menurutnya). Katanya gini, "wuihh bintang abang yg paling keren nih bun, gak ada yg nyamain sinarnya!" Dari situ saya menjadi semakin faham karakter Ali, memang dia sangat peduli estetika, ingin terlihat rapi dan bahkan cenderung selalu ingin menjadi yg terbaik dalam banyak hal, semisal olahraga, penampilan, dan beberapa mata pelajaran di sekolah yg memang dia sukai seperti IPA dan Bahasa Inggris.

Tugas saya sebagai ibu utk selalu membuatnya mau terus belajar utk menjadi yang terbaik spt yg diinginkannya. Namun tetap utk rendah hati dan pantang sombong.

Demikian progress Launching Star House part-1, kedepannya selain ingin menyempurnakan gambar dan mewarnai, saya berdo'a agar semua bintang dirumah ini semakin merasa saling memiliki dan berusaha membuat nama Star House semakin baik dikenal orang terutama keluarga dekat 😊

#Tantangan10Hari
#Hari1
#MyFamilyMyTeam
#FamilyProject
#BundaSayang
#InstitutIbuProfesional




Jumat, 17 Maret 2017

Aliran Rasa Apresiasi Kemandirian Anak

Game Level 2 dalam perkuliahan Bunda Sayang, semakin menantang. Yaitu melatih kemandirian anak dan membuatkannya portofolio untuk masing-masing anak. Semakin menantang bagi saya karena berbarengan dengan Ali patah tulang tangan, lalu operasi. Belum lagi urusan keluarga yang sangat menguras waktu, pikiran dan tenaga.

Melatih kemandirian Arsya tidak sulit, karena Alhamdulillaah Arsya sudah saya biasakan makan sendiri, bereskan mainan, dan toilet training. Untuk memakai dan melepas pakaian masih perlu dibantu. Sejauh ini soal kemandirian Arsya oke.

Lain hal dengan Ali yang mengalami kemunduran, tapi hal tsb bukan karena malas melainkan satu tangannya yang berkurang fungsi karena patah. Urusan kemandirian diri sendiri seperti merapikan kamar tetap jalan namun butuh bantuan utk melipat bedcover. Membantu orangtua juga saya liburkan dulu.

Ketiduran beberapa malam tanpa sempat setoran tantangan, otomatis gagal mendapat badge Outstanding Performance, krn syaratnya setor tantangan selama 10 hari berturut-turut. Kemudian putus asa di beberapa hari terakhir, ingin berhenti begitu saja pada level ini karena merasa tak sanggup menyetor tantangan tepat waktu. Namun akhirnya tiba2 membulatkan tekad bahwa saya bisa. Yes, I can!

Akhirnya, dengan motivasi langsung dari Ibu Septi di grup Bunda Sayang khusus Koordinator, serta teman-teman sesama koordinator yang senantiasa menyemangati kami di grup, berhasillaah saya menyetor tantangan dengan cara di rapel, hehe

Alhamdulillaah selain mendapatkan 2 badge pada game level 2 ini, saya mendapat ilmu baru tentang kemandirian anak yaitu : Kemandirian/keterampilan Dasar yang harus sudah dikuasai anak hingga maksimal usia aqil baligh, kemudian dilanjutkan dengan Keterampilan Abad 21.

Semua materinya menyusul ya...hihi... karena saat ini masih terbatas waktu untuk online. Saya harus siaga mendampingi Ali bolak-balik kontrol dan fisioterapi di RS, juga latihan fisioterapi mandiri di rumah.

Sabtu, 18 Februari 2017

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Bismillaah…

Ngomongin Γ soal Komunikasi, bagi saya tidak ada habisnya. Meskipun pernah mempelajari Ilmu Komunikasi dibangku kuliah, namun saat itu tidak pernah mempelajari ilmu berkomunikasi dengan pasangan, apalagi dengan anak. Berkali-kali saya gagal, jatuh bangun, pernah juga sampai kejedot, hiks. Padahal kedua jenis komunikasi tersebut merupakan bekal penting yang harus kita kuasai sebagai istri dan ibu dalam rumah tangga yang sedang kita jalani ini.

Kenapa? Karena selisih paham yang seringkali muncul sehari-hari bukan karena isi dari komunikasi kita, melainkan dari cara penyampaiannya. 

Nah, di tahap awal kelas Bunda Sayang kali ini, saya mendapat materi Komunikasi Produktif. Di dalamnya banyak sekali jurus yang efektif untuk dipraktekkan sehari-sehari di rumah dengan suami dan anak-anak. Ibu Septi juga mengajarnya dengan cara setahap demi setahap, membimbing kami dengan telaten dan menjawab semua curhatan kami di grup dengan gaya bahasa yang santai namun seperti mempunyai ruh, seakan-akan beliau juga hadir ditengah-tengah kita saat itu. Kata-katanya sederhana, tetapi penuh
 makna dan menonjok sangaaaat dalam ke dalam hati saya. Mak jleb!.....πŸ˜‚

Pertama-tama, belajar berkomunikasi dengan diri sendiri. Merubah pikiran negatif menjadi positif, karena pikiran yang posiftif membawa energi baik yang luar biasa dampaknya terhadap diri kita. Perlu selalu diingat bahwa “kosakata adalah output dari struktur berfikir dan cara berfikir kita”. Maka jika pikiran kita positif, akan muncul kata-kata positif dan sebaliknya. Perlu berhati-hati disini, karena kosakata kita mencerminkan diri kita. Tentu kita semua ingin dinilai baik oleh orang lain, kan? 😊

Kemudian berkomunikasi dengan pasangan. Sebagian besar pengalaman saya dengan suami, susah sekali mendapatkan kesepakatan mengenai sesuatu hal. Sama-sama anak pertama yang memiliki ego state orangtua , suka menceramahi tapi juga sama-sama tak suka digurui. Juga perbedaan Frame of Reference (pandangan hidup) dan Frame of Experience (pengalaman hidup) yang sangat mengganggu pola komunikasi kami. Dari situ harus ditemukan FoR dan FoE versi “kita”, untuk mencapai kesepakatan. Ini tantangan seru bagi saya yang orangnya cepet emosian πŸ˜‚

Tidak kalah seru ketika membahas cara berkomunikasi dengan anak. Disebutkan ada 12 Gaya Populer Berkomunikasi dengan Anak, yang ternyata sering saya lakukan, misalnya memerintah. Saya orang yang cenderung perfeksionis dan ingin segalanya serba cepat dan instan. Ada juga Jenis Bahasa Cinta Anak, saya semakin mengenal anak saya tipe yang suka ditemani, dibersamai ketika berkegiatan. Misalnya mendongeng dirumah sebelum tidur, ditemani saat menggambar atau membuat komik, saya selalu ditanyai pendapat mengenai gambarnya tersebut. 

Selain dari tiga jenis komunikasi tersebut (Komunikasi dengan Diri Sendiri, Pasangan dan Anak-anak) kami juga mendapat Game Level 1 yaitu T10H (Tantangan 10 Hari). Kami ditantang untuk membuat sebuah Forum Keluarga dan menuliskan pengalaman kami mempraktekkan Komunikasi Produktif dalam forum keluarga, selama 10 hari berturut-turut.

Forum Keluarga yang selama ini berjalan dalam keluarga kami biasanya saat sarapan pagi, saat libur atau seringnya justru terpisah-pisah, seperti kalau saat suami bekerja, saya asik ngobrol dengan anak-anak dan saat malam hari setelah anak-anak tidur, saya berdua suami asik ngobrol dikamar sambil pijit-pijitan hehehe. Dikatakan Ibu Septi bahwa T10H tidak ada yang salah, karena setiap keluarga adalah unik. Tiap keluarga punya cara unik masing-masing dalam berkomunikasi dan membuat forum keluarga. 

Banyak dari kami (termasuk saya sendiri) yang merasa gagal ber-KomProd saat proses T10H. Saya malah sempat 2 hari tidak menyetor tantangan karena benar-benar merasa telah gagal ber-KomProd dengan suami dan anak-anak, termasuk saat saya sedang sakit kemarin. Namun bersyukur dalam hal ini saya benar-benar introspeksi, berusaha mencari penyebab kenapa saya gagal? Ternyata setiap gagal itu kondisi iman saya sedang down. Tidak membaca Qur’an dan jauh dari dzikir. Tak heran lah jika syaitan berhasil menggoda saya untuk berkomunikasi yang jauh dari produktif. Astaghfirulloh...

Di akhir materi Komunikasi Produktif, kami diminta menuliskan Aliran Rasa, seperti tulisan yang sedang Anda baca saat ini. Kalau aliran rasa versi saya ini mungkin lebih cocok disebut curcol kali yaaaaa heheheee✌

Kamis, 02 Februari 2017

Sabtu Bersama Papi


Sabtu kemarin, Arsya nge-date sama papinya, karena bundanya menemani Abang Ali berkegiatan di Depok.

Kehebohan yang dirasakan papi katanya sudah dimulai dari pagi, coba tebak apa??? Haha...Arsya pup di pagi hari sementara suami saya itu orangnya super duper jijik-an. Kasihan...tapi ya harus dihadapi toh? Untuk tahap awal Papi lolos hehe. Kemudian dimandikannya Arsya dan dibantu memakai pakaian.

Arsya ikut papi ke kantor namun katanya kelamaan dia bored dan ujung-ujungnya mereka nge mall. Pikir saya, itu mah hanya alasan suami saja yang kehabisan ide bermain hahaha....


  


Bismillaah...yuk sekalian dibuat portofolio, dan ini masuk kategori CHA (Catatan Harian Anak)

Tema                     : Sabtu Bersama Papi
Lokasi                   : Kantor Papi dan Mall
Hari / Tanggal        : Sabtu, 28 Desember 2016
Nama                    : Arsya Hafizh Arrasyid
Usia                      : 21 Bulan
Fasilitator              : Papi

Deskripsi :
Pertama kalinya, seharian bermain bersama papi, dari mulai aktivitas di rumah hingga ke kantor dan jalan-jalan bersama.

Ekspresi Anak :
Gembira menjalani aktivitas nya bersama papi seharian, sangat antusias, namun berlama-lama di kantor dia jenuh.

Fitrah yang Ingin Dibangun :
Fitrah Seksual : Membangun kedekatan dengan papi
Fitrah Belajar  : Mengenal nama benda-benda kantor dan jenis profesi yang ada di sana 
                        Memahami bahwa untuk bersenang-senang harus diawali dengan bekerja
Fitrah Sosial    : Bertemu dengan beberapa karyawan dan orang-orang di mall.

Feedback :
Alhamdulillaah Arsya gembira dan tidak rewel seharian.

Next Project :
Perlu mengadakan aktivitas bersama yang lebih variatif  dan tidak membiasakan ke mall lagi hehee 


Gimana...., gampang kan membuat portofolio? Yang menjadi  tantangan selama ini adalah...rasa malasnya! :p (ngomongnya depan kaca alias talk to my self). 

Untuk suami saya...Selamat...Anda layak dapat bintang! *kiss...*

Kamis, 26 Januari 2017

Assalaamu'alaikum

Halo... Assalaamu'alaikum!

Alhamdulillaah... setelah 5-6 tahunan dianggurin, akhirnya saya dapat melongok kembali ke rumah ini. Tunggu cerita-cerita kami, ya! ^^

Salam hangat dari kami ber-empat : Ali, Arsya, Papi dan saya. 

Sampai jumpa!